Pengantar: Kenapa Rasa Kopi Bisa Begitu Berbeda?
Pernah nggak sih kamu merasa, dua cangkir kopi yang kelihatannya sama, tapi rasanya bisa beda banget? Aku dulu kira perbedaan itu cuma karena cara seduh atau jenis roast-nya aja. Tapi ternyata, jenis biji kopi adalah salah satu faktor paling menentukan.
Bayangin kamu lagi duduk santai di sore hari, menikmati secangkir kopi yang aromanya mirip buah beri. Besoknya kamu minum kopi lain, dan… rasanya malah kayak dark chocolate pahit.
Dari situ aku belajar bahwa kopi itu seperti manusia—setiap jenis biji punya karakter dan cerita yang berbeda.
Sebagai seorang penulis konten yang nggak bisa jauh dari kopi (serius, nulis tanpa kopi rasanya kayak nonton film tanpa subtitle ), aku mulai penasaran kenapa satu kopi bisa terasa fruity, sementara yang lain pahit dan kuat banget. Dari situlah aku mulai menggali dunia biji kopi, dan percaya deh—dunia ini jauh lebih luas dari sekadar Arabika dan Robusta!
Mengenal Jenis Biji Kopi: Fondasi dari Setiap Cita Rasa
Kalau kita bicara soal jenis biji kopi, sebenarnya kita sedang membahas varietas tanaman kopi itu sendiri. Sama seperti anggur yang punya banyak varietas dan mempengaruhi rasa wine, biji kopi pun begitu.
Ada beberapa jenis biji kopi utama yang umum dibudidayakan dan dikonsumsi dunia: Arabika, Robusta, Liberika, dan Ekselsa. Masing-masing punya keunikan dalam rasa, aroma, bahkan bentuk fisiknya. Dan selain dari empat itu juga ada beberapa varietas lainnya, dan mari kita telusuri lebih dalam lagi.
H2: Arabika – Varietas Paling Populer dengan Cita Rasa Kompleks
Saking populernya, biji kopi Arabika menyumbang sekitar 60–70% dari produksi kopi dunia. Tapi yang menarik, Arabika punya ratusan sub-varietas seperti Typica, Bourbon, dan bahkan Geisha.
Arabika tumbuh di dataran tinggi dan lebih sensitif terhadap iklim, tapi justru dari situ, cita rasanya berkembang jadi kaya banget.
Cocok untuk: Penikmat kopi yang suka rasa asam segar, floral, dan aromatik. Ideal untuk metode seduh manual kayak V60 atau Kalita.
Fakta menarik: Arabika pertama kali ditemukan di dataran tinggi Ethiopia, dan dipercaya sebagai kopi pertama yang dibudidayakan manusia.
H2: Robusta – Si Energi Booster dengan Kafein Tinggi
Kalau kamu tim “butuh kafein biar bisa kerja”, Robusta bisa jadi soulmate kamu. Biji ini punya kadar kafein dua kali lebih tinggi dari Arabika dan tumbuh subur di dataran rendah—makanya lebih tahan terhadap hama.
Cocok untuk: Pecinta kopi pahit, espresso lovers, dan kamu yang cari kopi dengan efek “melek seketika”.
Fakta menarik: Di Italia, banyak kopi espresso berbasis Robusta karena crema-nya lebih tebal. Di Indonesia, Lampung dan Sumatera Selatan jadi sentra utama Robusta.
H2: Liberika – Si Eksotis dari Asia Tenggara
Liberika itu seperti hidden gem dalam dunia kopi. Dulu sempat digunakan untuk menggantikan Arabika saat terkena wabah penyakit di abad ke-19, tapi kemudian tenggelam pamornya. Kini, Liberika bangkit lagi karena aromanya yang… unik banget! Ada aroma buah tropis, smoky, bahkan kadang mirip nangka.
Cocok untuk: Kamu yang adventurous dan suka aroma kopi yang tidak biasa. Paling cocok diminum black tanpa gula.
Fakta menarik: Jambi adalah satu-satunya daerah di dunia yang berhasil menjaga keberlanjutan budidaya Liberika dalam skala besar.
H2: Ekselsa – Varietas Tangguh untuk Blend Kopi Premium
Banyak orang mengira Ekselsa adalah bagian dari Liberika, padahal keduanya beda. Ekselsa punya aroma kayu dan rasa yang cenderung earthy dan tajam. Meski jarang disajikan single origin, kopi ini sering banget dijadikan komponen rahasia dalam campuran blend untuk menambah kompleksitas rasa.
Cocok untuk: Pecinta kopi bold dan kamu yang suka rasa “dark” tapi berkarakter.
Fakta menarik: Ekselsa sangat tahan terhadap iklim ekstrem dan tanah yang tidak subur, menjadikannya varietas yang tahan banting secara harfiah.
H2: Typica – Induk dari Banyak Varietas Arabika
Typica adalah leluhur dari banyak varietas Arabika modern. Kalau diibaratkan keluarga, dia ini “nenek moyang” yang mewariskan rasa halus dan elegan. Banyak kopi spesialti di Amerika Latin berasal dari varietas Typica.
Cocok untuk: Penikmat kopi dengan rasa bersih, halus, dan ringan. Ideal diseduh dengan pour-over.
Fakta menarik: Typica menyebar dari Ethiopia ke Yaman, lalu ke India, dan akhirnya ke seluruh dunia melalui kolonialisasi.
H2: Bourbon – Si Manis yang Disukai Barista
Kalau kamu suka kopi dengan rasa manis alami dan body yang creamy, kamu harus coba Bourbon. Varietas ini adalah mutasi dari Typica yang ditemukan di Pulau Bourbon (sekarang Réunion). Banyak ditemukan di Rwanda, Brasil, dan El Salvador.
Cocok untuk: Penikmat kopi yang suka rasa manis alami tanpa gula tambahan.
Fakta menarik: Bourbon punya banyak “anak” varietas, seperti Yellow Bourbon, Red Bourbon, bahkan Orange Bourbon!
H2: Geisha – Sang Primadona Dunia Kopi Spesialti
Geisha atau Gesha itu kayak selebriti-nya dunia kopi. Pertama kali ditemukan di Ethiopia, tapi jadi terkenal gara-gara Panama. Kopi ini bisa dijual dengan harga ratusan dolar per 100 gram karena aroma dan rasanya yang sangat kompleks—ada floral, teh melati, citrus, sampai stone fruit.
Cocok untuk: Kamu yang menganggap kopi sebagai seni, bukan sekadar minuman.
Fakta menarik: Pada kompetisi lelang kopi, Geisha dari Panama pernah terjual dengan harga lebih dari $1.000 per pound!
H2: SL28 & SL34 – Varietas Klasik dari Kenya
Dikembangkan oleh Scott Agricultural Laboratories (makanya namanya “SL”), kedua varietas ini terkenal karena keasamannya yang khas dan aroma blackcurrant yang kuat. SL28 sangat tahan kekeringan, sementara SL34 lebih tahan terhadap hujan.
Cocok untuk: Penikmat kopi dengan karakter fruity dan juicy.
Fakta menarik: SL28 sering disebut sebagai salah satu varietas terbaik untuk profil rasa Afrika Timur yang khas dan kompleks.
Setiap Jenis Biji Kopi Adalah Cerita dari Alam dan Waktu
Dulu aku pikir kopi itu ya cuma hitam dan pahit. Tapi setelah kenal lebih dalam dengan berbagai jenis biji kopi, aku jadi sadar kalau kopi itu kaya—secara rasa, cerita, bahkan filosofi.
Waktu aku nyoba pertama kali kopi Liberika dari Jambi, jujur aku sempat kaget. Rasanya beda banget dari Arabika yang biasa aku minum. Tapi justru dari situ aku belajar bahwa selera itu berkembang seiring kita memberi kesempatan pada lidah dan pikiran untuk terbuka.
Sama seperti hidup, kadang yang asing justru memberi pelajaran paling berkesan. Dan kopi, dengan segala jenis bijinya, mengajak kita untuk terus bereksplorasi.
Temukan Karakter Rasa dari Setiap Jenis Biji Kopi
Setiap jenis biji kopi punya karakter yang unik—baik dari segi rasa, aroma, hingga cara penyeduhan idealnya. Arabika cocok untuk pecinta rasa kompleks, Robusta untuk kamu yang butuh energi cepat, Liberika dan Ekselsa buat kamu yang suka tantangan rasa baru.
Kalau kamu ingin lebih dekat dengan kopi, mulai dari mengenal bijinya adalah langkah yang tepat. Coba eksplorasi dari kopi single origin, dan rasakan sendiri bagaimana tiap biji menyimpan cerita dari tanah tempatnya tumbuh.
Siap menjelajah rasa dan menemukan kopi yang mencerminkan dirimu?



